Rabu, 08 September 2010

Gembili yang masih kusuka


Tanaman gembili tumbuh menjalar. Tanaman ini membutuhkan pohon lain sebagai tambatan atau ajir untuk pertumbuhannya. Gembili mempunyai lingkungan tumbuh yang sama dengan uwi-uwian. Hanya saja perbedaannya pada tempat tumbuhnya, dimana gembili mampu merambat di bebatuan seperti di lahan-lahan berbatu hitam di Gunungkidul.

Tanaman gembili ini umumnya diperbanyak dengan tunas umbi. Dalam satu umbi terdapat satu mata tunas yang dapat dijadikan bibit baru. Pemeliharaan tanaman dengan cara menggemburkan tanah disekitarnya dan pemupukan dengan kompos dari daun-daunan.
Pemanenan dilakukan setelah tanaman ini berumur lebih dari satu tahun. Biasanya masyarakat memanennya pada saat berumur 3 tahun. Apabila dibiarkan, umbinya akan tumbuh menjadi sangat besar, tetapi rasanya tidak seenak gembili yang dipanen pada waktunya.

Pemanfaatan pada gembili adalah umbinya, terutama untuk pangan. Pengolahannya seperti umbi yang lain yaitu dengan direbus, dikukus, digoreng atau dibakar.
Ada bermacam-macam jenis gembili, yaitu : Gembili Gajah, Gembili Teropong, Gembili Legi, Gembili Srewot atau Gembili Wulung.
Nama dari gembili menunjuk kepada bentuknya, misalnya gembili gajah berbentuk paling besar dibanding yang lain. Gembili teropong bentuknya bulat memanjang seperti teropong. Sedangkan gembili legi mempunyai bentuk paling kecil, tetapi rasanya paling enak, karena paling manis. Gembili srewot, permukaannya mempunyai rambut-rambut akar yang sangat banyak. Terakhir gembili wulung mempunyai umbi, batang dan daun berwarna ungu.

Kandungan gizi gembili : dalam 100 gr gembili mengandung kalori 95 kal, protein 1,5 gr, lemak 0,1 gr, karbohidrat 22,4 gr, kalsium 14 gr.
Gembili ini bagus dikonsumsi untuk anak-anak maupun orang dewasa, karena rasanya enak dan juga mempunyai kandungan gizi yang baik tetapi tidak menggemukkan.

Gambar atas : Gembili

Tidak ada komentar:

Posting Komentar